Yoga's

Portfolio
Dok. Pribadi
Bukankah selama ini yang namanya teologi selalu tidak membebaskan? Teologi selama ini dikategorikan sebagai dasar-dasar ilmu agama. Sebab ia membahas ajaran-ajaran dasar suatu agama. Jika seseorang ingin mempelajari seluk beluk agamanya secara mendalam, maka perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Karena mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan-keyakinan yang berdasarkan pada landasan kuat, yang tidak mudah diombang-ambing.

Dalam istilah Arab ajaran-ajaran dasar itu disebut Usul al Din dan oleh karena itu buku yang membahas soal-soal teologi dalam Islam selalu diberi nama Kitab Usul al Din oleh para pengarangnya. Teologi dalam Islam disebut juga ‘ilm al-tauhid. Selain itu, teologi Islam disebut juga ‘ilm al-kalam. Kalam adalah kata-kata. Maka tak heran jika teolog dalam Islam disebut juga mutakallim.

Teologi Islam yang umum kita dapatkan biasanya dalam bentuk ilmu tauhid. Ilmu tauhid biasanya memberi pembahasan sepihak dan tidak mengemukakan pendapat dan faham dari aliran-aliran atau golongan-golongan lain yang ada dalam teologi Islam. Pada umumnya ialah ilmu tauhid menurut aliran Asy’ariah, sehingga timbullah kesan di kalangan umat Islam Indonesia, bahwa inilah satu-satunya teologi yang ada dalam Islam.

Teologi Asy’ariah adalah teologi yang diusung Abu al-Hasan ‘Ali Ibn Isma’il al-Asy’ari. Teologi ini mendapat angin segar setelah khalifah al-Mutawakkil membatalkan putusan khalifah al-Ma’mun tentang penerimaan aliran Muktazilah sebagai teologi resmi dinasti Abasiyyah, di samping itu kedudukan kaum Muktazilah mulai menurun, ditambah al-Mutawakkil menunjukan sikap penghargaan dan penghormatan terhadap diri Ibn Hambal. Ibn Hambal adalah pemuka agama yang berpegang teguh pada hadits, yang dengannya Teologi Ay’ariah bersinergis. Ia adalah seteru utama kaum Muktazillah di masa itu. Abu al-Hasan ‘Ali Ibn Isma’il al-Asy’ari pendiri aliran Asy’ariah mulanya adalah pengikut aliran teologi Muktazilah. Yang kemudian keluar dan menyusun teologi baru yang sesuai dengan aliran orang yang berpegang teguh pada Hadits.

Dalam Islam sebenarnya terdapat lebih dari satu aliran teologi. Selain Asy’ariah ada Muktazilah. Muktazilah dikenal karena teologi ini dipandang sebagai bentuk ‘usang’ yang darinya Asy’ariah lahir. Muktazilah adalah pelanjut utama faham Qodariyah sedangkan Asy’ariyah adalah pelanjut utama faham Jabariyah.

Kaum Qodariyah berpendapat bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dan kebebasan dalam menentukan perjalanan hidupnya. Bahwa manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dalam istilah inggrisnya faham ini dikenal dengan nama free will dan free act.

Sedangkan kaum Jabariyah berpendapat sebaliknya, manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Manusia dalam faham ini terikat pada kehendak mutlak Tuhan. Bahwa perbuatan-perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh Tuhan. Dalam bahasa Inggris faham ini disebut juga fatalism atau predestination.

Telah disebut tadi, pasca al-Mutawakkil mencabut dukungannya terhadap kaum Muktazilah, sejak saat itu teologi Asy’ariahlah yang notabene pelanjut utama faham Jabariyah, tumbuh subur di seantero tanah Imperium Abasiyyah. Namun, jauh sebelum Imperium Abasiyyah berdiri, tepatnya pasca khalifah Utsman wafat telah terjadi perebutan kekuasaan yang berimplikasi pada lahirnya faham-faham teologi. Dari persoalan politik melahirkan persoalan teologis.

Lahirnya faksi politik bernama Khawarij dan  Syi’ah. Syi’ah adalah mereka yang pro Ali dan kontra Mu’awiyah. Sedangkan, Khawarij  adalah mereka yang menolak kepemimpinan baik Mu’awiyah maupun Ali. Dari persoalan politik melahirkan persoalan teologis. Kemudian kedua faksi ini berbeda pendapat tentang siapa yang kafir dan siapa yang mu’min berdasarkan sikap politik mereka.

Kaum Khawarij dan Syi’ah sungguh pun merupakan dua golongan yang bermusuhan, sama-sama menentang kekuasaan Mu’awiyah (selanjutnya Dinasti Umayah), tetapi dengan motif yang berlainan. Kalau Khawarij menentang dinasti ini karena memandang mereka menyeleweng dari ajaran-ajaran Islam, Syi’ah menentang, karena memandang mereka merampas kekuasaan dari Ali dan keturunannya.

Dalam suasana pertentangan serupa inilah, timbul suatu golongan baru yang ingin bersikap netral tidak mau turut dalam praktek kafir-mengkafirkan yang terjadi antara golongan yang bertentangan itu. Bagi mereka sahabat-sahabat yang bertentangan itu merupakan orang-orang yang dapat dipercayai dan tidak keluar dari jalan yang benar. Oleh karena itu mereka tidak mengeluarkan pendapat tentang siapa yang sebenarnya salah, dan memandang lebih baik menunda (arja’a) penyelesaian persoalan ini ke hari perhitungan di depan Tuhan. Golongan ini disebut Murji’ah.

Kaum Murji’ah pada mulanya merupakan golongan yang tidak mau turut campur dalam pertentangan-pertentangan yang terjadi ketika itu dan mengambil sikap menyerahkan penentuan hukum kafir atau tidak kafirnya orang-orang yang bertentangan itu kepada Tuhan.

Dari lapangan politik mereka segera pula berpindah ke lapangan teologi. Persoalan dosa besar yang ditimbulkan kaum Khawarij, mau tidak mau menjadi bahan perhatian dan pembahasan pula bagi mereka. Kalau kaum Khawarij menjatuhkan hukum kafir bagi orang yang berbuat dosa besar, kaum Murji’ah menjatuhkan hukum mukmin bagi orang yang serupa itu. Adapun soal dosa besar yang mereka buat, itu ditunda penyelesaiannya ke hari perhitungan kelak. Argumentasi yang mereka majukan dalam hal ini ialah bahwa orang Islam yang berdosa besar itu tetap mengakui, bahwa tiada tuhan selain Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh. Dengan demikian orang Islam yang berdosa besar tetaplah mukmin tidak kafir. Persoalan kafir tidaknya seseorang bagi kaum Murji’ah adalah persoalan beriman atau tidaknya mereka.

Aliran-aliran teologi di atas oleh Ashgar dikategorikan sebagai teologi klasik di dunia Islam sebab aliran teologi itu lahir di masa-masa sesudah Muhammad wafat. Teologi Islam Klasik secara umum berwatak spekulatif dan metafisik, ini terjadi terutama sejak masuknya filsafat yunani dan persia ke alam pikir orang Islam, ditandai dengan ditaklukannya Imperium Sasanid dan Bizantium oleh umat Islam. Adapun tema-tema yang dibicarakan tercakup dalam tiga bidang: ketuhanan, kenabian, kebangkitan. Yang tercakup dalam tema ketuhanan diantaranya persoalan: relasi antara sifat dengan zat, kemahakuasaan, akal dan wahyu, qdha dan qadar, kebaikan dan keburukan, keadilan Tuhan. Kemudian yang tercakup dalam tema kenabian diantaranya persoalan: kemaksuman, kepemimpinan, dan imam mahdi. Sedangkan yang tercakup dalam tema kebangkitan diantaranya persoalan: kebangkitan fisik dan non fisik, reinkarnasi, dosa besar, kebadian neraka pada muslim, keabadian surga dan neraka.

Ketika itu para teolog disebut juga mutakallim. Karena mereka satu sama lain saling bersilat lidah mengenai tema-tema di atas. Kalam artinya kata-kata. Para teolog sibuk dengan urusannya, mengangkat agama ke taraf yang paling abstrak, kemudian bersilat lidah tentangnya. Sekolah-sekolah teologi dan hukum mulai menancapkan eksistensinya, yang berimplikasi pada hilangnya elan vital keadilan Islam yang distributif. Islam sebagai agama keselamatan sudah tidak lagi mempedulikan masalah keadilan konkrit (sosio-ekonomi). Bersamaan dengan itu, di abad pertengahan, feodalisme tumbuh dengan suburnya di dunia Islam.

Bagi Ashgar, karakteristik teologi yang terlampau abstrak itu cenderung tidak membebaskan dan pro status quo. Sejauh ini sejarah perkembangan teologi justru menguatkan anggapan tersebut. Atas dasar itu maka menjadi pentinglah merumuskan teologi yang membebaskan. Yaitu sebuah teologi yang berorientasi pada praktik pembebasan manusia dari tatanan ekonomi-politik yang eksploitatif dan menindas.

*Rangkuman seusai membaca buku "Teologi Pembebasan"; Ali Ashgar E.

Previous PostPostingan Lama Beranda